Sabtu, 25 Desember 2021

Menari di atas Gamang

 


Lihatlah bangku itu, yang basah setelah di guyur hujan
Kemarin kita pernah duduk berdua disana
Bercerita tentang luar angkasa dan dalamnya samudera
Kita dua sejoli yang tak suka membicarakan perasaan, meskipun hati kita saling menyatukan. Itu sudah cukup untuk menyakinkan

Setiap tetesan hujan itu bermakna memberi kehidupan, jadi jangan mengeluh ketika kebasahan
Seperti saat kita diatas motor dengan laju pelan, menerobos rentetan air hujan
Distraksi terjadi dalam gerimis, mengalihkan kedalam senyummu yang manis, lewat spion yang terkikis

"Apakah kamu kangen?" Ujarnya

Tidak, aku hanya spontan, mengingat kembali kenangan bersama orang yang takkan pernah aku lupakan

Aku tak peduli dengan kepergian 
Meskipun gamang hadir dalam pikiran
Itu akan reda saat parasmu datang ke hadapan







Jumat, 24 Desember 2021

Introver hanya beban?


Aku introver banget orangnya.

Seorang introver sulit sekali bergaul dan kadang dia terganggu dengan orang-orang yang di luar ekspektasinya, yang tidak sefrekuensi. Tapi jika obrolan itu nyambung dia tidak akan berhenti untuk berbicara dengan orang yang tepat menurutnya.

Dalam diri seorang introver itu sering berpikir pesimis saat ingin berhadapan dengan orang lain, ya aku kadang suka gitu, dalam berbicara dengan orang lain saja aku berpikir "apakah aku tadi salah ngomong??? apakah ucapanku menyakitinya???" dan beberapa lagi apakah. 

Ketika aku sendirian aku suka merenungkan bahwa aku harus berani untuk ramah dan ceria kepada orang lain. Have courage and be kind.

Bagaimana cara meyakinkan diri untuk berani menghadapi hasrat yang pada dasarnya introver? Ketika saya bertemu dengan orang baru saya bersikap seperti orang pada umumnya menyapanya dan mencoba membuat bercanda, dan jika orang itu mengerti dan satu frekuensi. Anjay. Pasti kita juga bakal nyaman dan jiwa introver itu bakal terlupakan tanpa kita mengingat, dan itu akan berlanjut ketika anda menemukan orang baru lainnya untuk bergaul dan menambah relasi.

Karena sistem pertemanan itu bajingan banget bro. Lu diam, lu bakal minim relasi, bahkan ada beberapa orang yang melihat seorang yang pendiam ini tidak bisa melakukan apa-apa. Dikira patung kali. Dan ada juga yang menganggapnya sampah peradaban. Heh ini sudah terlalu keras sih. Orang pendiam tak seperti yang dipikirkan, orangnya lemahlah, gak bisa apa-apalah. Lu belum tahu aja saat dia dengan seorang yang sefrekuensi dengannya. 

Bukan diri mereka sendiri yang membuatnya menjadi pendiam, faktor lingkungan juga salah satunya yang menyebabkan mereka bisa terganggu. Waktu SMP masa-masa 2015an yang lagi ramai-ramainya tawuran dan kealayan gitu. Gue di cap sama teman-teman sebagai orang yang susah bergaul dan menganggap gue lemah. "Yang lemah tuh kalian, gue sendirian, kalian banyakan" kata gue. Teman gue gak pada berani duel satu lawan satu, mereka keroyokan. Busuk. Gue nyaman dengan cara gue sendiri waktu di SMP meski dikelilingi sedikit orang-orang yang masih bisa gue anggap teman/sahabat.

Dan ketika memasuki masa SMA gue punya teman sekelas yang mana dia ini pendiam tingkat akut. Di kelas dia tak punya teman dekat, dia sendirian terus, tidak ada sahabat mengobrol itu bagiku sudah bikin muak, sementara dia tetap tenang dan hidup meski tak di anggap di bangku pojok paling depan. Kami kadang membullynya, karena dia sekalinya ngomong itu pamer kekayaan, tanpa bukti bahwa dia kaya. Dia memang aneh, wali kelas kala itu juga bahkan tidak mengenali dia dan hanya benalu peradaban. Itu sebuah introver yang tidak baik. Kita ini manusia makhluk sosial, yang artinya kita hidup tidak sendirian kita hidup yang saling berinteraksi antara manusia satu sama lain, bukan malah mengasingkan diri dan menjauhi kodrat kita manusia sebagai manusia.

Jadi introver itu enak dalam situasi tertentu dimana kita bisa tenang untuk lebih memikirkan hal-hal dan berimajinasi untuk kedepan. Gue kadang seperti itu suka sekali kritis dan memikirkan hal-hal serta mengintepretasikan apa yang kita lihat sebelum kita bertindak. Introver tak selamanya mendiamkan peradaban, tidak selamanya menjadi beban, ia hanya butuh situasi yang nyaman, untuk bergerak dan meluangkan suatu tindakan.

Sabtu, 18 Desember 2021

Sekilas tentangnya

Kereta ini melaju dengan cepat, sementara diluar derai hujan sangat lebat. Meski rindu terhalang sekat, kau tetap selalu jadi yang terikat.

Sebelum keberangkatan sahabatku kembali kehabitatnya, aku menuliskan surat untuk dia baca ketika sudah sampai ke Jakarta. Seorang yang tiga kali aku temui, kini menjadi seorang yang tak inginku lepas pergi. Pertemuan kita penuh bacot antar mulut yang dialektika, yang satu sama lain menceritakan asal-usul dari planet mana berasal hingga kisah percintaan yang tak berjalan mulus, semulus lintasan Tamiya.

Dalam laju motorku, dia berkata "Aneh ya, aku orangnya tuh cuek, tapi kalo sama kamu banyak bacot", kurang lebih seperti itu ujarnya.

Aku sering menyinggungnya dengan perkataan "beda kalo anak metropolitan mah" dan dia kesal dengan raut wajah yang menyebalkan. Dia benar-benar culture shock dengan Cirebon yang masih banyak sawah terhampar, beda seperti Jakarta yang di penuhi gedung tinggi dan polusi yang sukar. Matanya tertegun tenang terpanah melihat hamparan pemandangan saat di motor denganku.

"Sering-sering lihat ginian, jangan mall dan kafe terus" kataku

Satu hal yang aku suka dari dia, yaitu keaktifan dan progresif dalam setiap situasi, juga dia keliatan tidak semangat tapi tanggap menjalani hari yang hebat. Pernah suatu hari saat kita pergi ke puncak kaki Ciremai, setelah seharian menghabiskan waktu membicarakan banyak hal termasuk hal ketuhanan pun dibawa-bawa hingga menggoyahkan imannya. Berkeliling mendaki dan turun lagi hingga waktu perlahan mulai gelap, dan segera laju langkah kita untuk membawa siuh dari sini. Saat menurunkan motor, aku tak tahu kalau jalan itu licin, seperti kulit belut. Motorku terpleset miring dan dia pun jatuh tapi aku masih bisa menggenggam tangannya. Aku menertawakan kejadian ini, dia tersipu malu. "Kalo ngantuk bilangan dulu istirahat jangan dulu nyetir" katanya dengan nada kesal

"Ya makanya pegangan, jangan melongo, ada yang sakit ga?" kataku membantahnya

"Ga sakit sih, malunya itu di liatin orang di warung" ujarnya

Hingga di turunan kita berhenti untuk dia memakai sweater dan menutupi bajunya yang kotor tadi. "Yaudah gapapa, anak kota kapan lagi main kotor-kotoran" kataku.

Itu sedikit momen dari perjalanan dia denganku, meski dia dari kota, tapi tidak gengsian berteman denganku yang anaknya sangat alakadarnya dan sederhana. Dia tetap rendah hati dan menjalani dengan sepenuh hati saat bersamaku. Hingga saat terakhirnya ingin meninggalkan Cirebon, dia menahan sakit dan mengeluh, bukan karena pisah dariku atau minggat dari Cirebon, tapi karena dia lagi PMS, dasar wanita gitu aja lebay. "HEH! Bukan lebay yak" ujarnya dengan nada tinggi.

Saat dia mengurusi surat-surat, aku diam-diam memasukan kertas yang berisi tulisanku dalam tas laptopnya. Kami menunggu kereta siap, sementara di atas awan cerah dan gelap. 10 menit sebelum keberangkatan kita masih di luar, hingga suara dari stasiun menyerukan ketiga kalinya kepada kita bahwa kereta siap berangkat. Dengan bersiap-siap dan tenang untuk melepas kepergian yang sementara, aku menjulurkan tanganku yang mengepal dan "TOS" sebuah lampang persahabatan yang takkan sirna oleh masa. Dia berjalan di depanku menuju loket dan menuju ke gerbong yang dituju. "Hati-hati kembalilah ke habitatmu" ujarku 




Kamis, 16 Desember 2021

Kita beda, yaudah

Percaya gak, kalau perbedaan yang terjadi di dunia ini adalah rencana Tuhan untuk menilai tanggapan umatnya dengan adanya perbedaan itu bagaimana? 

Tuhan maha mengetahui. Ya memang benar, Tuhan lebih tahu tentang apa-apa dari pada umatnya. Nah, tinggal kitanya saja yang bagaimana menghadapi perbedaan yang Tuhan kasih, jika kita menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di lingkungan kita seperti budaya, ras, agama, atau bahkan perbedaan klub bola, maka Tuhan akan senang dan kita pun akan hidup tenang dengan banyaknya relasi dari sebuah perbedaan itu.

Sayidina Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata "Meski bukan saudara se-iman, tapi mereka adalah saudara kemanusiaan". Kita tidak boleh terlalu membanggakan diri dan golongan yang sepaham dengan kita sehingga malah mendiskriminasi golongan lain yang tidak sejalan dengan kita. Biar berbeda kita tetap saudara kemanusiaan dan dari satu akar yang sama yaitu Adam dan Hawa.

Kita harus hidup selaras dengan alam, dengan rasionalitas menghargai antar sesama manusia yang ada di alam dan bisa mengontrol kendali atas dirinya.
Tuhan berfirman dalam Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.". Manusia di bekali akal dan pikiran untuk menjaga hubungan keselarasan di alam, jika manusia tidak menggunakan akal dan pikiran mereka dengan tidak benar, maka mereka tidak ada bedanya dengan binatang.

Kebanyakan perang terjadi karena sebuah perbedaan dari abad ke abad perang terus berkecamuk itu atas dasar perbedaan. Jika semua orang rasional dan saling menghargai dari suku mana dia berasal, dari agama apa dia, atau dari penggemar bola apa dia, pasti peperangan tidak akan terjadi karena nalar/rasio mereka di gunakan dengan baik dan selaras dengan alam dan menganggap apa yang mereka perdebatkan itu bagian dari alam yakni perbedaan. Jadi untuk apa kita berperang/berantem hanya karena kita beda? Perbedaan akan terus ada kok, ngapain kita pusing mikir bahwa "dia beda kesukaan klub bola, saya tidak mau berteman dengan dia" 

Jika lo berpikiran seperti itu, hiduplo tidak akan tenang, dan selalu terselubung rasa cemas. Dia beda klub bola, tapi dia warga satu desa. Untuk apa kita bertengkar hanya karena hal sepele yakni, perbedaan.

Senin, 06 Desember 2021

Dunia tidak adil!

Dunia ini gak adil!!
Dunia harus adil!?
Jika persepsi anda terus seperti itu, anda akan terus dicerca oleh kekhawatiran, yang mana itu itu akan membuat anda membenci hal-hal disekitar anda. Misalnya, tetangga punya motor/mobil baru, lalu anda iri melihatnya "dia kok bisa beli mobil baru, kok saya ngga, dunia gak adil banget". Hal itu tidak akan membuat hidup anda tenang dan bahagia.

Menjalani hidup apa adanya dan menghiraukan hal-hal diluar kendali kita, seperti yang di ajarkan filsuf stoa. Filosofi ini sangat simple dan mudah untuk di terapkan agar hidup tenang meski dalam kondisi yang pelik. Tetangga punya mobil baru, yaudah itu hak mereka. Kita tak bisa menyalahkan dunia tentang hal ini. Karena berada diluar kendali kita. Tetangga punya mobil baru, jika kita berusaha giat bekerja dan sukses dalam berkarir pasti bisa membeli beberapa mobil.

Bagaimana jika saya tidak bisa sukses?

Anda belum tahu tentang past(masa depan) kehidupan anda. Nah, yang harus anda lakukan adalah melakukan dengan dengan baik present (masa sekarang). Anda harus mengubah persepsi aja jangan dulu memikirkan masa depan itu akan mengganggu kegiatan kerja. Bukan stress yang membunuhmu tapi pikiranmu tentang stress yang akan membunuhmu. Stoa mengajarkan kita untuk berpikir yang baik, mengajarkan kita untuk menahan diri. Karena emosi diri itu tidak baik bagi kehidupan kita. Tugas yang di berikan dosen sangat banyak, anda marah-marah, kesal, frustasi. Itu tidak akan berpengaruh menyudahi tugas anda, jika ingin menyudahinya adalah dengan mengerjakannya. Mengerjakan dengan tenang, dan istirahat yang cukup, dan itu akan selesai sebelum sehari sebelum deadline. Saya pernah melakukannya, teman saya baru pendahuluan, saya sudah selesai sehari sebelum deadline. Dia sejak pertama diberi tugas langsung kesal ke saya dan ngomel. Akhirnya dia mengerjakan dengan bisa di katakan terpaksa yang membuat bertele-tele dalam mengerjakan tugas. 

Tugas banyak, yaudah kerjain aja, marah-marah tidak akan mengurangi tugasnya, yang mengurangi itu dengan mengerjakannya. Dalam situasi apapun kita harus mengontrol diri, dan melakukan apa yang ada dalam kendali kita seperti persepsi kita, yaitu untuk segera mengerjakannya.





Sabtu, 20 November 2021

Masa kenakalan

Di bangku kelas urutan ketiga sekolah dasar, aku sedang mencoba menuangkan imajinasiku dengan menggambar diseutas kertas yang aku temukan dalam kolong meja. Aku menggambar sebuah pohon yang tak memiliki daun, bisa dibilang pohon itu mati. 
Kenapa aku menggambar pohon mati? Yang aku pikirkan saat itu ialah bahwa, sisa-sisa dari diri kita akan tetap ada meskipun kita telah tiada, seperti sejarah dan kenangan bersama.
Aku memang anaknya penuh imajinasi, aku selalu memikirkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar, ketika hal itu tidak aku mengerti aku mengimajinasikan dengan caraku sendiri supaya memahami apa arti sebenarnya. 
Disebelahku seorang teman yang bisa mengerti apa yang sedang aku imajinasi kan, meskipun tak sepenuhnya dia mengerti, baginya ataupun bagi temanku yang lain, aku adalah seorang yang paling konyol di kelas, yang suka menghayal tanpa batas.
Aku terlihat pendiam bagi orang yang hanya melihatku tanpa mengenaliku. Aku akan banyak cakap bila aku bicara dengan seseorang yang mengerti tentang apa yang aku bicarakan. Aku pernah bertemu dengan seorang pria dewasa yang aku lupa sekarang siapa namanya. Dia pernah berkata "imajinasimu akan membentuk duniamu lebih luas". Sial, aku lupa namanya, tapi aku ingat lokasi dia bicara begitu, yaitu saat ada acara di sekolahku.
Setelah pelajaran selesai dan waktunya istirahat, aku dan teman-temanku keluar pergi dari sekolah menuju ke pesawahan dan hutan yang tak jauh dari sekolah, yang sekarang berubah menjadi sebuah komplek perumahan. Aku bersama 8 teman yang lain menyusuri pesawahan yang kering, kami tak tau tujuan kami saat itu kemana. Yang jelas kami keluar dari lingkungan sekolah dan menemukan suasana baru di hutan.
Tujuan temanku yang lain ialah mencuri mangga dan jambu. Ada yang terpukau dengan suasana hijau yang tenang, dan ada yang ingin sekali memburu burung yang indah hinggap di ranting pohon yang tinggi. Kami melempar batu dan tak satupun mengenai burung itu, dan burung itu malah kabur. Lemparan batuku meleset dan malah mengenai sarang lebah, itu sebuah kekacauan dan kami lari tunggang langgang. Aku dan Fajar lari sambil ketawa, hingga kita kembali ke sekolah.
Dan kami masuk ke kelas dengan membawa beberapa buah hasil meminta(mengambil tanpa izin dari yang punya) dari kebun Pak Ambari. Beruntung guru belum masuk, dengan nafas yang terengah-engah kami kembali ke aktivitas di dalam kelas.


"Imajinasi itu hayalan dari kenyataan"


Kamis, 04 November 2021

Seutas surat untuk anak kecil pinggir jalan

foto lampu merah BAT, sebelum aku bertemu dengan anak kecil itu



Saat aku pulang dari rumah seorang teman, Cirebon sore masih terasa panas. Di lampu merah dekat gedung lama BAT. Aku berhenti sebentar saat lampu merah, dan melihat anak kecil, kecil banget tidak memakai alas kaki, sambil membawa kaleng yang dalamnya berisi recehan.

Dia menyelip di antara kendaraan, dengan senyuman dan tingkahnya yang riang gembira. Dan tak lama kemudia lampu hijau, dia tak sempat datang ke arahku, dan aku langsung pergi dengan meninggalkan dia. 

Tak tega sebenarnya melihat hal itu, aku ingin sekali membantunya, dan bicara dengannya, serta menghiburnya. Diantara anak-anak yang lain yang bermain riang di rumah, dia malah turun ke jalan demi mencari nafkah. Dimana orang tuanya? Kalau pun ada bisa-bisanya menyuruh anak sekecil itu turun ke jalan panas-panasan seharian.

Pemerintah daerah harus tahu akan hal ini, agar kedepannya anak-anak seperti ini bisa hidup dan bersekolah dengan layak. Dan semoga anak-anak seperti yang ku temui di lampu merah tadi bisa bernasib lebih baik kedepannya.


Aku tulis puisi tentang dia judulnya "seutas surat untuk anak kecil di lampu merah"

Hai nak
Kau tampak gembira
Melangkah ditengah kendaraan
Saat lampu sedang merah
Dengan membawa kaleng berisi recehan di dalamnya

Kaki mungilmu yang tangkas
Berjalan diantara aspal panas
Tanpa sebuah alas

Kau menutupi lelah dengan tawa
Hingga lupa akan tugas sekolah
Kapan keadaan akan berubah
Tak seharusnya engkau disana

Sementara anak-anak lain bermain riang di rumah
Kau malah bergelut dengan panasnya mentari di lampu merah

Cirebon, 1 November 2021