Kamis, 04 November 2021

Seutas surat untuk anak kecil pinggir jalan

foto lampu merah BAT, sebelum aku bertemu dengan anak kecil itu



Saat aku pulang dari rumah seorang teman, Cirebon sore masih terasa panas. Di lampu merah dekat gedung lama BAT. Aku berhenti sebentar saat lampu merah, dan melihat anak kecil, kecil banget tidak memakai alas kaki, sambil membawa kaleng yang dalamnya berisi recehan.

Dia menyelip di antara kendaraan, dengan senyuman dan tingkahnya yang riang gembira. Dan tak lama kemudia lampu hijau, dia tak sempat datang ke arahku, dan aku langsung pergi dengan meninggalkan dia. 

Tak tega sebenarnya melihat hal itu, aku ingin sekali membantunya, dan bicara dengannya, serta menghiburnya. Diantara anak-anak yang lain yang bermain riang di rumah, dia malah turun ke jalan demi mencari nafkah. Dimana orang tuanya? Kalau pun ada bisa-bisanya menyuruh anak sekecil itu turun ke jalan panas-panasan seharian.

Pemerintah daerah harus tahu akan hal ini, agar kedepannya anak-anak seperti ini bisa hidup dan bersekolah dengan layak. Dan semoga anak-anak seperti yang ku temui di lampu merah tadi bisa bernasib lebih baik kedepannya.


Aku tulis puisi tentang dia judulnya "seutas surat untuk anak kecil di lampu merah"

Hai nak
Kau tampak gembira
Melangkah ditengah kendaraan
Saat lampu sedang merah
Dengan membawa kaleng berisi recehan di dalamnya

Kaki mungilmu yang tangkas
Berjalan diantara aspal panas
Tanpa sebuah alas

Kau menutupi lelah dengan tawa
Hingga lupa akan tugas sekolah
Kapan keadaan akan berubah
Tak seharusnya engkau disana

Sementara anak-anak lain bermain riang di rumah
Kau malah bergelut dengan panasnya mentari di lampu merah

Cirebon, 1 November 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar