Kamis, 24 Februari 2022

Tulis Pemalas



Sesekali aku ingin disibukkan dengan ketenangan, mencoba menyatukan diri dengan alunan suasana yang bersamaku. Sambil mendengarkan musik indie yang alunannya menggoda telinga untuk bersorak kegirangan saat nada puitis mengalun indah. 

Tapi aku hanya seorang pemalas yang risih dengan keramaian. Aku tidak bisa menyatakan cinta kepada seseorang bukan karena malu, tapi aku benar-benar malas.

Aku ingin mencoba bermain gitar, seperti idolaku Iwan fals dan Kurt cobain. Aku sebenarnya bisa seperti mereka, dengan memainkan petikan yang indah. Tapi aku sungguh malas

Menyender dikursi seraya menyender dalam singgasana kemalasan yang terperanjat dalam benakku dan mendekap seraya membisik 'nyamankan dirimu'. Bisikan itu lembut, selembut bibirmu saat kucumbu dengan gemulai.

Melawan kemalasan seperti melawan prajurit Romawi yang siap tempur di depan mata. Ya, kita harus berani menghabisinya dengan keyakinan bahwa kita bisa. Rasa itu akan sirna selama kita tidak terpaku pada suatu hal saja. 

Ada banyak hal untuk diapa-apain, "carilah kesibukan coba wahai diriku" ujarku selepas santai menyender dikursi ternyamanku. Kita perlu objek untuk menggerakkan diri kita dan objek itu haruslah penting dan punya impact pada diri.

Bergeraklah untuk beraktivitas selayaknya, jangan terkoyak dengan kemalasan yang menanti didepan mata. 

Yang jelas saat ini aku benar-benar malas gerak.



Kamis, 17 Februari 2022

Celoteh dari sudut negeri

Suatu hari dalam sebuah negeri yang damai, elok dan asri
Bergelimang keindahan alamnya yang indah berseri
Hingga pada suatu hari, tangan-tangan kotor menapakan serta mengekploitasi 

Pembangunan dimana-mana
Tak memperdulikan nasib makhluk hidup yang ada disana
Pemerintah berjanji mensejahterakan rakyat
Tapi malah membuatnya melarat

Agitasi keluar dari mulut penguasa
Kepada rakyat agar mau menjual tanah tercinta
Dengan lantang warga berkata 
"Ini bukan milik negara! Ini milik kita, pribumi!"

Tanah Surga

Negeriku
Negeri berjuta ragam budaya
Tanahnya disebut tanah surga
Apapun tumbuh di negeri tercinta
Sampai mereka penuh perjuangan menumpahkan darah
Demi mempertahankan negeri dari tangan-tangan kotor penjajah

Menjarah, menindas, mengeksploitasi tanpa kenal henti, tanpa kenal peduli.

Pengorbanan para pribumi menjadikannya sebagai pahlawan
Terkenanglah selalu dan akan selalu begitu tercatat oleh sejarawan

Negeriku
Jangan biarkan kerakusan menghabiskan sumber dayamu 
Akan selalu ada banyak pribumi yang senantiasa menjaga dan merawatmu
Sudah menjadi kewajiban menjagamu agar bisa dilihat dan dirasakan oleh anak cucu

Jumat, 11 Februari 2022

Toxic Friends


Masa SMP adalah masa dimana ego dan gengsi itu sangat melekat dalam setiap sirkel pertemanan, dan jika ada masalah yang sepele itu malah akan di besar-besarkan hingga menimbulkan konflik yang merusak hubungan antar relasi yang telah dibangun. Makanya aku tak terlalu memiliki banyak teman saat SMP, kebanyakan berisi toxic, dan hanya beberapa saja yang bisa diandalkan.

Aku kemarin mengobrol dengan tetanggaku, yang mana dia itu masih kelas 2 SMP. Sebelum itu dia punya teman yang sangat dekat dan tiap hari mereka lalui dengan keceriaan, bersenda gurau bersama, dan mereka juga satu organisasi di sekolahnya. Terus hanya karena masalah sepele yang harusnya bisa diselesaikan dengan cepat, malah merembet kemana-mana. 

Panggil aja tetanggaku itu Sarah, dia pindahan dari Papua disini dia tinggal bersama kakek neneknya. Perbedaan budaya sering kali membuat dia bingung, dan hari-hari pertamanya disini bertemu dengan teman-teman baru dia selalu di ejek karena logatnya yang orang Papua melekat dalam dirinya. Dia seolah-olah tidak terganggu dengan hal seperti itu, namanya juga culture shock, dan dia berusaha untuk menyatu dengan budaya dan lingkungan sosial sekitar. 

Singkat cerita dia berkenalan dengan Indri, dan beberapa hari kemudian mereka akrab dan sering main bersama. Saat ngaji denganku pun mereka selalu bersama dan selalu memancarkan raut wajah yang gembira. Setelah mengaji denganku mereka selalu bercerita tentang hari-harinya dan kesukaannya akan cowok-cowok good looking idaman mereka. Aku hanya menanggapi seadanya saja tak ingin terlalu banyak berbicara, biar mereka saja yang bercerita.

Mereka berdua satu organisasi di PMR, dimana Indri menjabat sebagai wakil ketua, dan Sarah sebagai Bendaharanya. Masalah muncul ketika ada seorang lelaki yang datang dalam pertemanan mereka, dimana lelaki itu mencintai Sarah, tapi Indri mencintai lelaki itu. Tak jauh-jauh lelaki itu adalah ketua umum PMR. 

Lelaki itu pernah mengutarakan cintanya ke Sarah dihadapan teman-temannya tiga kali, yang pertama dan kedua terjawab sebuah penolakan, dan yang ketiganya karena Sarah bingung, Sarah tidak tega juga dan kasihan dia menerima lelaki itu. Namun, tidak untuk waktu yang lama.

Hubungan Sarah dan Indri mulai kacau, Indri mengira Sarah telah menikung dia dari belakang, dan mengajak sirkelnya untuk memusuhi Sarah, bahkan Indri sering kali playing victim kepada Sarah. Mereka berantem dan tidak ada yang ingin mengalah, saling memperbesar dengan opini masing-masing, dan banyak dari teman-teman Indri yang memantik dan melebih-lebihkan omongannya untuk menyulut emosi Indri supaya masalah yang terjadi semakin keruh. 

Hari-hari mereka berdua yang ceria itu sirna, hanya ada tatapan sinis dan omongan dari belakang diantara mereka. Sarah mencoba untuk menurunkan egonya, dia juga tidak ingin ada masalah dia tidak ingin kehilangan teman-temannya, dan akhirnya dia memutuskan hubungan dengan lelaki itu. Setelah itu Sarah berbicara dengan Indri dan saling memaafkan, namun Indri berujar bahwa "pertemanan kita tidak bisa seperti dulu, kita hanya sebatas kenal saja dan satu organisasi, aku sudah terlanjur kecewa."

Indri bilang kepada Sarah bahwa Sarah tidak profesional, tapi Sarah membantah opini itu, menurutnya yang tidak profesional itu dia, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi malah di perbesar dengan membawa sirkel. Dan juga lelaki itu tidak profesional menjalankan tugasnya yang notabenenya sebagai ketua, karena dalam peraturan organisasi tidak dibolehkan pacaran dengan satu teman organisasi. Meskipun peraturan itu tidak tertulis, tapi sebagai ketua harus dengan profesionalitas bisa menjalankan.

Sarah sudah menyelesaikannya, tapi dia juga tidak terlalu memperlihatkan keresahannya tentang masalah tersebut. Aku juga pernah memberinya saran tentang selalu menghadapi masalah dengan tenang, dan tidak panik. Serta tetap ramah dan berbuat baik kepada orang, dan juga mewanti-wanti kejadian kedepan dengan cara berpikir negatif, agar kita tidak terlalu jatuh jikalau peristiwa buruk yang sudah kita pikirkan akan terjadi. Sarah bilang "kalau maunya seperti itu yaudah, yang penting aku sudah minta maaf jika aku salah, dan jika dia tak mau berteman denganku seperti dulu, tak apa, itu hak dia".

Keceriaan yang dulu sudah tidak bisa kembali lagi karena ego dan agitasi sirkel yang semakin menyulut emosi Indri agar tidak lagi berhubungan baik dengan Sarah seperti dulu. Satu kesalahan akan selalu diingat melupakan seribu kebaikan dan kebahagiaan saat sedang bersama.

Indri dan sirkelnya yang pernah main ke rumah Sarah dan melihat ibunya seperti tidak suka Sarah berteman dengan mereka, namun kembali lagi yang memperburuk itu imajinasi mereka yang belum tentu benar. Jangan langsung menilai orang dari tampilan, selama kita belum kenal dan tahu betul sifat orang tersebut.

Namanya juga masih SMP, egoismenya masih tinggi dan tempat mainnya masih belum jauh. Jadi belum mengenal sama sekali arti pertemanan yg di campuri masalah percintaan. Tapi harus bisa untuk mengatur diri, jangan mau hidupnya di atur dalam bacotan orang lain, jangan langsung percaya dan menilai opini orang lain yang belum tentu akan kebenarannya. Mencari sahabat yang sangat dekat itu susah, jadi jangan rusak persahabatan yang sudah jadi dengan peristiwa sepele yang terjadi. Bukan peristiwanya yang buruk, tapi pandangan pikiran kita tentang peristiwa itu yang memperburuk.



Selasa, 08 Februari 2022

Perghibahan


Setiap perkumpulan kita pasti selalu membicarakan tentang orang, entah itu teman, dosen, tetangga, atau yang lainnya. Meski membicarakan seseorang itu tidak baik, tapi kebanyakan manusia masih melakukan hal itu dan menjadikannya lumrah.

Mengghibah itu pasti selalu dikaitkan dengan hal-hal yang buruk, itu tergantung pembicaranya sih. Mereka membicarakan seseorang tentang keburukannya, ya, itu sangat salah. Tidak berdampak juga bagi kita. Lantas mengapa masih kita bicarakan?

Karena dari situ kita bisa membuat hubungan dengan teman kita rusak, dan akan menambah masalah dalam diri kita, seperti kehilangan salah satu teman contohnya, dan kita di cap sebagai tukang nyinyir. Kita membicarakan keburukan orang, dengan tujuan apa? Ingin menjadi sosok yang paling keren di hadapan yang lain, atau ingin menjatuhkan seseorang? 

Kita belum tentu sebaik ucapan kita, dan orang lain juga belum tentu seburuk yang kita ucapkan. Tak ada dampak baiknya juga buat kita ketika kita membicarakan keburukan orang.

Tapi pernah gak kita membicarakan seseorang yang mana orang itu sedang ada masalah, dan kita membantu mencarikan solusi buat dia?

Kemarin aku dan teman-temanku berkumpul, kami membahas tentang sejarah dan kejadian-kejadian yang menurut masing-masing layak di bicarakan. Ketika pembahasan sudah di ujung tanduk, ada hening seketika di antara kita selama beberapa menit. Salah satu temanku mengatakan tentang seorang teman kami yang tak ikut kumpul hari itu, kami meroastingnya, dan temanku yg lain menyerukan bahwa dia sedang mengalami masalah. 

Sebagai teman kami sangat ingin membantunya, jadi obrolan ini bukan seperti ghibah lebih ke diskusi untuk meredakan masalah. Ceritanya teman kami ini punya hubungan dengan seorang wanita, namun hubungannya di gantung selama 5 bulan, dan setelah dia berani mengungkapkan perasaannya malah di tolak mentah-mentah, dan akhir-akhir ini juga sikapnya agak berubah. Setelah itu kita mencarikan solusi untuk menemaninya dalam kemurungan perasaan yang berkalut asmara yang terhunus penolakan.

Selain permasalahan percintaan, kami juga berbicara tentang masalah kehidupan lain, seperti membicarakan tentang dosen killer yang menjadi dosen pembimbing. Setelah membicarakan dosen itu, kita mencari solusi  untuk selalu sabar menghadapi setiap kritikan pedasnya tentang skripsi kita nanti. Btw kita kan masih semester 2.

Setiap orang pasti punya masalah, dan topik yang kita bicarakan tentang orang itu adalah masalahnya. Lebih baik membantu menyelesaikan masalahnya daripada membicarakan keburukannya tentang masalahnya yang mana, itu tidak berdampak sama sekali. Hanya membuat kita menjadi seorang bermulut nyinyir. 

Jadi, Ghibah yang biasa aku lakukan dengan teman-temanku adalah membicarakan permasalahan untuk memperbaiki, bukan membicarakan permasalahan dan memperlihatkan keburukan.

Watch your mouth, so as not to spill bad things.