Setiap perkumpulan kita pasti selalu membicarakan tentang orang, entah itu teman, dosen, tetangga, atau yang lainnya. Meski membicarakan seseorang itu tidak baik, tapi kebanyakan manusia masih melakukan hal itu dan menjadikannya lumrah.
Mengghibah itu pasti selalu dikaitkan dengan hal-hal yang buruk, itu tergantung pembicaranya sih. Mereka membicarakan seseorang tentang keburukannya, ya, itu sangat salah. Tidak berdampak juga bagi kita. Lantas mengapa masih kita bicarakan?
Karena dari situ kita bisa membuat hubungan dengan teman kita rusak, dan akan menambah masalah dalam diri kita, seperti kehilangan salah satu teman contohnya, dan kita di cap sebagai tukang nyinyir. Kita membicarakan keburukan orang, dengan tujuan apa? Ingin menjadi sosok yang paling keren di hadapan yang lain, atau ingin menjatuhkan seseorang?
Kita belum tentu sebaik ucapan kita, dan orang lain juga belum tentu seburuk yang kita ucapkan. Tak ada dampak baiknya juga buat kita ketika kita membicarakan keburukan orang.
Tapi pernah gak kita membicarakan seseorang yang mana orang itu sedang ada masalah, dan kita membantu mencarikan solusi buat dia?
Kemarin aku dan teman-temanku berkumpul, kami membahas tentang sejarah dan kejadian-kejadian yang menurut masing-masing layak di bicarakan. Ketika pembahasan sudah di ujung tanduk, ada hening seketika di antara kita selama beberapa menit. Salah satu temanku mengatakan tentang seorang teman kami yang tak ikut kumpul hari itu, kami meroastingnya, dan temanku yg lain menyerukan bahwa dia sedang mengalami masalah.
Sebagai teman kami sangat ingin membantunya, jadi obrolan ini bukan seperti ghibah lebih ke diskusi untuk meredakan masalah. Ceritanya teman kami ini punya hubungan dengan seorang wanita, namun hubungannya di gantung selama 5 bulan, dan setelah dia berani mengungkapkan perasaannya malah di tolak mentah-mentah, dan akhir-akhir ini juga sikapnya agak berubah. Setelah itu kita mencarikan solusi untuk menemaninya dalam kemurungan perasaan yang berkalut asmara yang terhunus penolakan.
Selain permasalahan percintaan, kami juga berbicara tentang masalah kehidupan lain, seperti membicarakan tentang dosen killer yang menjadi dosen pembimbing. Setelah membicarakan dosen itu, kita mencari solusi untuk selalu sabar menghadapi setiap kritikan pedasnya tentang skripsi kita nanti. Btw kita kan masih semester 2.
Setiap orang pasti punya masalah, dan topik yang kita bicarakan tentang orang itu adalah masalahnya. Lebih baik membantu menyelesaikan masalahnya daripada membicarakan keburukannya tentang masalahnya yang mana, itu tidak berdampak sama sekali. Hanya membuat kita menjadi seorang bermulut nyinyir.
Jadi, Ghibah yang biasa aku lakukan dengan teman-temanku adalah membicarakan permasalahan untuk memperbaiki, bukan membicarakan permasalahan dan memperlihatkan keburukan.
Watch your mouth, so as not to spill bad things.