Sabtu, 20 November 2021

Masa kenakalan

Di bangku kelas urutan ketiga sekolah dasar, aku sedang mencoba menuangkan imajinasiku dengan menggambar diseutas kertas yang aku temukan dalam kolong meja. Aku menggambar sebuah pohon yang tak memiliki daun, bisa dibilang pohon itu mati. 
Kenapa aku menggambar pohon mati? Yang aku pikirkan saat itu ialah bahwa, sisa-sisa dari diri kita akan tetap ada meskipun kita telah tiada, seperti sejarah dan kenangan bersama.
Aku memang anaknya penuh imajinasi, aku selalu memikirkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar, ketika hal itu tidak aku mengerti aku mengimajinasikan dengan caraku sendiri supaya memahami apa arti sebenarnya. 
Disebelahku seorang teman yang bisa mengerti apa yang sedang aku imajinasi kan, meskipun tak sepenuhnya dia mengerti, baginya ataupun bagi temanku yang lain, aku adalah seorang yang paling konyol di kelas, yang suka menghayal tanpa batas.
Aku terlihat pendiam bagi orang yang hanya melihatku tanpa mengenaliku. Aku akan banyak cakap bila aku bicara dengan seseorang yang mengerti tentang apa yang aku bicarakan. Aku pernah bertemu dengan seorang pria dewasa yang aku lupa sekarang siapa namanya. Dia pernah berkata "imajinasimu akan membentuk duniamu lebih luas". Sial, aku lupa namanya, tapi aku ingat lokasi dia bicara begitu, yaitu saat ada acara di sekolahku.
Setelah pelajaran selesai dan waktunya istirahat, aku dan teman-temanku keluar pergi dari sekolah menuju ke pesawahan dan hutan yang tak jauh dari sekolah, yang sekarang berubah menjadi sebuah komplek perumahan. Aku bersama 8 teman yang lain menyusuri pesawahan yang kering, kami tak tau tujuan kami saat itu kemana. Yang jelas kami keluar dari lingkungan sekolah dan menemukan suasana baru di hutan.
Tujuan temanku yang lain ialah mencuri mangga dan jambu. Ada yang terpukau dengan suasana hijau yang tenang, dan ada yang ingin sekali memburu burung yang indah hinggap di ranting pohon yang tinggi. Kami melempar batu dan tak satupun mengenai burung itu, dan burung itu malah kabur. Lemparan batuku meleset dan malah mengenai sarang lebah, itu sebuah kekacauan dan kami lari tunggang langgang. Aku dan Fajar lari sambil ketawa, hingga kita kembali ke sekolah.
Dan kami masuk ke kelas dengan membawa beberapa buah hasil meminta(mengambil tanpa izin dari yang punya) dari kebun Pak Ambari. Beruntung guru belum masuk, dengan nafas yang terengah-engah kami kembali ke aktivitas di dalam kelas.


"Imajinasi itu hayalan dari kenyataan"


Kamis, 04 November 2021

Seutas surat untuk anak kecil pinggir jalan

foto lampu merah BAT, sebelum aku bertemu dengan anak kecil itu



Saat aku pulang dari rumah seorang teman, Cirebon sore masih terasa panas. Di lampu merah dekat gedung lama BAT. Aku berhenti sebentar saat lampu merah, dan melihat anak kecil, kecil banget tidak memakai alas kaki, sambil membawa kaleng yang dalamnya berisi recehan.

Dia menyelip di antara kendaraan, dengan senyuman dan tingkahnya yang riang gembira. Dan tak lama kemudia lampu hijau, dia tak sempat datang ke arahku, dan aku langsung pergi dengan meninggalkan dia. 

Tak tega sebenarnya melihat hal itu, aku ingin sekali membantunya, dan bicara dengannya, serta menghiburnya. Diantara anak-anak yang lain yang bermain riang di rumah, dia malah turun ke jalan demi mencari nafkah. Dimana orang tuanya? Kalau pun ada bisa-bisanya menyuruh anak sekecil itu turun ke jalan panas-panasan seharian.

Pemerintah daerah harus tahu akan hal ini, agar kedepannya anak-anak seperti ini bisa hidup dan bersekolah dengan layak. Dan semoga anak-anak seperti yang ku temui di lampu merah tadi bisa bernasib lebih baik kedepannya.


Aku tulis puisi tentang dia judulnya "seutas surat untuk anak kecil di lampu merah"

Hai nak
Kau tampak gembira
Melangkah ditengah kendaraan
Saat lampu sedang merah
Dengan membawa kaleng berisi recehan di dalamnya

Kaki mungilmu yang tangkas
Berjalan diantara aspal panas
Tanpa sebuah alas

Kau menutupi lelah dengan tawa
Hingga lupa akan tugas sekolah
Kapan keadaan akan berubah
Tak seharusnya engkau disana

Sementara anak-anak lain bermain riang di rumah
Kau malah bergelut dengan panasnya mentari di lampu merah

Cirebon, 1 November 2021