Kenapa aku menggambar pohon mati? Yang aku pikirkan saat itu ialah bahwa, sisa-sisa dari diri kita akan tetap ada meskipun kita telah tiada, seperti sejarah dan kenangan bersama.
Aku memang anaknya penuh imajinasi, aku selalu memikirkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar, ketika hal itu tidak aku mengerti aku mengimajinasikan dengan caraku sendiri supaya memahami apa arti sebenarnya.
Disebelahku seorang teman yang bisa mengerti apa yang sedang aku imajinasi kan, meskipun tak sepenuhnya dia mengerti, baginya ataupun bagi temanku yang lain, aku adalah seorang yang paling konyol di kelas, yang suka menghayal tanpa batas.
Aku terlihat pendiam bagi orang yang hanya melihatku tanpa mengenaliku. Aku akan banyak cakap bila aku bicara dengan seseorang yang mengerti tentang apa yang aku bicarakan. Aku pernah bertemu dengan seorang pria dewasa yang aku lupa sekarang siapa namanya. Dia pernah berkata "imajinasimu akan membentuk duniamu lebih luas". Sial, aku lupa namanya, tapi aku ingat lokasi dia bicara begitu, yaitu saat ada acara di sekolahku.
Setelah pelajaran selesai dan waktunya istirahat, aku dan teman-temanku keluar pergi dari sekolah menuju ke pesawahan dan hutan yang tak jauh dari sekolah, yang sekarang berubah menjadi sebuah komplek perumahan. Aku bersama 8 teman yang lain menyusuri pesawahan yang kering, kami tak tau tujuan kami saat itu kemana. Yang jelas kami keluar dari lingkungan sekolah dan menemukan suasana baru di hutan.
Tujuan temanku yang lain ialah mencuri mangga dan jambu. Ada yang terpukau dengan suasana hijau yang tenang, dan ada yang ingin sekali memburu burung yang indah hinggap di ranting pohon yang tinggi. Kami melempar batu dan tak satupun mengenai burung itu, dan burung itu malah kabur. Lemparan batuku meleset dan malah mengenai sarang lebah, itu sebuah kekacauan dan kami lari tunggang langgang. Aku dan Fajar lari sambil ketawa, hingga kita kembali ke sekolah.
Dan kami masuk ke kelas dengan membawa beberapa buah hasil meminta(mengambil tanpa izin dari yang punya) dari kebun Pak Ambari. Beruntung guru belum masuk, dengan nafas yang terengah-engah kami kembali ke aktivitas di dalam kelas.
"Imajinasi itu hayalan dari kenyataan"