Kereta ini melaju dengan cepat, sementara diluar derai hujan sangat lebat. Meski rindu terhalang sekat, kau tetap selalu jadi yang terikat.
Sebelum keberangkatan sahabatku kembali kehabitatnya, aku menuliskan surat untuk dia baca ketika sudah sampai ke Jakarta. Seorang yang tiga kali aku temui, kini menjadi seorang yang tak inginku lepas pergi. Pertemuan kita penuh bacot antar mulut yang dialektika, yang satu sama lain menceritakan asal-usul dari planet mana berasal hingga kisah percintaan yang tak berjalan mulus, semulus lintasan Tamiya.
Dalam laju motorku, dia berkata "Aneh ya, aku orangnya tuh cuek, tapi kalo sama kamu banyak bacot", kurang lebih seperti itu ujarnya.
Aku sering menyinggungnya dengan perkataan "beda kalo anak metropolitan mah" dan dia kesal dengan raut wajah yang menyebalkan. Dia benar-benar culture shock dengan Cirebon yang masih banyak sawah terhampar, beda seperti Jakarta yang di penuhi gedung tinggi dan polusi yang sukar. Matanya tertegun tenang terpanah melihat hamparan pemandangan saat di motor denganku.
"Sering-sering lihat ginian, jangan mall dan kafe terus" kataku
Satu hal yang aku suka dari dia, yaitu keaktifan dan progresif dalam setiap situasi, juga dia keliatan tidak semangat tapi tanggap menjalani hari yang hebat. Pernah suatu hari saat kita pergi ke puncak kaki Ciremai, setelah seharian menghabiskan waktu membicarakan banyak hal termasuk hal ketuhanan pun dibawa-bawa hingga menggoyahkan imannya. Berkeliling mendaki dan turun lagi hingga waktu perlahan mulai gelap, dan segera laju langkah kita untuk membawa siuh dari sini. Saat menurunkan motor, aku tak tahu kalau jalan itu licin, seperti kulit belut. Motorku terpleset miring dan dia pun jatuh tapi aku masih bisa menggenggam tangannya. Aku menertawakan kejadian ini, dia tersipu malu. "Kalo ngantuk bilangan dulu istirahat jangan dulu nyetir" katanya dengan nada kesal
"Ya makanya pegangan, jangan melongo, ada yang sakit ga?" kataku membantahnya
"Ga sakit sih, malunya itu di liatin orang di warung" ujarnya
Hingga di turunan kita berhenti untuk dia memakai sweater dan menutupi bajunya yang kotor tadi. "Yaudah gapapa, anak kota kapan lagi main kotor-kotoran" kataku.
Itu sedikit momen dari perjalanan dia denganku, meski dia dari kota, tapi tidak gengsian berteman denganku yang anaknya sangat alakadarnya dan sederhana. Dia tetap rendah hati dan menjalani dengan sepenuh hati saat bersamaku. Hingga saat terakhirnya ingin meninggalkan Cirebon, dia menahan sakit dan mengeluh, bukan karena pisah dariku atau minggat dari Cirebon, tapi karena dia lagi PMS, dasar wanita gitu aja lebay. "HEH! Bukan lebay yak" ujarnya dengan nada tinggi.
Saat dia mengurusi surat-surat, aku diam-diam memasukan kertas yang berisi tulisanku dalam tas laptopnya. Kami menunggu kereta siap, sementara di atas awan cerah dan gelap. 10 menit sebelum keberangkatan kita masih di luar, hingga suara dari stasiun menyerukan ketiga kalinya kepada kita bahwa kereta siap berangkat. Dengan bersiap-siap dan tenang untuk melepas kepergian yang sementara, aku menjulurkan tanganku yang mengepal dan "TOS" sebuah lampang persahabatan yang takkan sirna oleh masa. Dia berjalan di depanku menuju loket dan menuju ke gerbong yang dituju. "Hati-hati kembalilah ke habitatmu" ujarku