Kejadian itu akan menjadi pengingatku untuk menandakan bahwa kamu seorang yang bajingan.
Suara tuan
Selasa, 15 Maret 2022
Friendzone
Menjalin hubungan pertemanan dengan seseorang yang kita cintai adalah hal yang rumit untuk urusan rasa. Memang rasa tidak dapat di tebak tentang datangnya serta kepada siapanya rasa itu akan berlabuh. Rasa muncul dari kenyamanan yang didapat ketika bersama seorang yang membuat kita nyaman, yang mengerti dan menghargai kita dan menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Teman misalnya, seorang yang datang dan pergi setiap saat seiring bertambahnya waktu dan usia, silih berganti teman datang dan pergi. Orang yang menjadi tempat ternyaman untuk bercerita tentang hari-hari yang berat serta menjadi tempat diskusi, beradu argumen yang hebat.
Jumat, 11 Maret 2022
Aparatur Desa tak Terdidik
Kepada pejabat desa Wakanda, desa kecil diujung perbatasan kabupaten, dengan 50% lahan hamparan sawah yang luas yang mulai terkikis akibat pembangunan komplek perumahan. Masyarakatnya ramah tetapi kepada khalayak tertentu saja.
Semenjak pergantian Kuwu masyarakat mulai merasakan ketidaknyamanan dengan pemerintahan desa, dimulai dari RT yang tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Untuk kesekian kalinya RT mendatangi rumah saya dan meminta surat-surat yang katanya untuk bantuan dari pemerintah pusat yang telah turun. Untuk kesekian kalinya tidak ada kejelasan keberlanjutan hasilnya. Sang RT hanya bilang "entahlah gak tau". Warga blok RT sini tidak ada yang dapat, tapi RTnya sendiri yang dapat hasil bantuan dari pemerintah. Sudah kelihatan seperti ada manipulatif yang terjadi pada RT sialan ini.
Tetangga saya, Pak Kusnadi sampai-sampai pergi langsung ke aparat desanya, karena dia punya saudara disana, dan setelah dia mendatangi aparat desa dia langsung mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia saking kesalnya sama RT dan pengen mendapatkan bantuan karena ekonomi sedang tidak baik-baik saja, bukan cuman menimpa satu dua orang, anjlokan ekonomi terjadi pada beberapa masyarakat. Harusnya bareng-bareng dibantu, bukan seperti RT sialan tadi yang hanya mendapat hasil sementara warga di bloknya hanya bisa diam dan meratapi hasilnya yang tidak jelas.
Punya saudara di pemerintahan itu enak sekali, hukum nepotisme masih berlaku ternyata. Mendengar kabar bahwa ketika bantuan turun semua aparat desa mendapatkan hasil bantuan, bahkan anak-anaknya dapat. Terlalu tergiur dengan materialistis, bukan anda doang yang pengen bantuan pemerintah pusat, rakyat kecilnya juga di perhatikan dong. Jangan enak duduk asik dan dapat hasil, tanpa melihat rakyatnya yang kelaparan menunggu hasil yang tak pasti. Kalian kerja apa sih?
Aparat desa selama beberapa tahun kebelakang ini seperti tidak ada tindakan, dan tidak ada impact buat masyarakat, impact-nya hanya membuat perutnya kenyang sendiri.
Jangan mentang-mentang masyarakat didesa ini diam-diam saja tanpa perlawanan dengan ketidakmerataan dan ketidakadilan pemerintahan desa yang tidak becus, banyak dana yang masuk dan keluar secara sia-sia. Masyarakat kecil tidak diperhatikan, namun keluarganya sendiri bahkan diikut sertakan dalam menerima bantuan. Heh kalian tai. Tidak cukupkah gaji kalian sebagai aparat desa untuk membiayai kehidupan sehari-hari, apakah masih kurang? Lihatlah para nelayan, buruh serabutan, petani, tukan bangunan, dan masih banyak lagi, yang LEBIH LAYAK menerima bantuan ekonomi daripada sanak-saudara kalian yang berkecukupan.
Beginilah ketika aparat desa yang dipilih asal tunjuk, tidak tahu latar belakang dan attitude orang tersebut. Wong saat pemilihan kuwunya juga tidak jelas visi misinya apa, tapi dengan uang mampu membayar suara masyarakat untuk memilihnya. Masyarakat harus cerdas jangan langsung menanggapi calon Kuwu yang ambisius, tanpa kejelasan visi misinya ngapain. Paling kalau sudah jadi dia cuman duduk doang di kursi empuk dikantor desa.
Begitulah singkatnya dari beberapa aparat desa yang tak terpelajar desa wakanda, tak punya rasa kemasyarakatan hanya punya rasa individualis dan hedonisme.
Kamis, 10 Maret 2022
Kampus Labil
Suatu ketika di sebuah kampus, segelintir mahasiswa yang rasional mengkritik pihak kampus karena sebuah kebijakan dan program yang tak sesuai dan tak diresmikan. Ada beberapa wacana yang sudah 2 tahun ini belum jelas dan masih utopis. Yang katanya perubahan dari IAIN ke UIN, dan itu sudah tersebar luas dikalangan mahasiswa, bahkan saya saat masih kelas 11 SMA sudah mendengar kabar tersebut.
Saya mendengar kabar dari mahasiswa 2 tahun lalu, yang mana mereka sudah mempersiapkan diri dan menyorak sorai kabar gembira tersebut, dengan memasang kemeriahan twibon dan semacamnya untuk menuju pergantian nama kampus.
Namun beberapa hari kemarin, saya mendengar lagi kabar bahwa kampus ini tidak benar-benar menjadi UIN namun belom ke nama UISI, yang mana membuat telinga para warga kampus aneh mendengar kabar itu. Namun itu juga belum resmi di sahkan oleh pihak kampus dan atasannya.
Saat kelas 11 SMA saya dapat kabar bahwa nanti saat saya lulus SMA nanti IAIN akan naik kelas menjadi UIN, dan setelah saya masuk ada kesan kehambaran yang hinggap dalam diri. Saya tidak mempermasalahkan pergantian namanya, tapi saya mempertanyakan perihal kenapa kampus begitu labil?
Wacana pembelajaran secara luring juga belum sepenuhnya pasti, karena masih ada halangan tentang covid. Tapi akhir-akhir ini sudah tidak terlalu meyakinkan dan relevan lagi kabar tentang covid.
Kampus lain ada liburnya, sementara IAIN, tidak. Terlalu banyaknya kelas-kelas tambahan dan pembelajaran yang dicecar terus kepada mahasiswa yang membuat mahasiswa "endase mumet", ditambah platform yang disedian dari kampus sering error, masih Beta dan belum layak untuk disebarluaskan, sudah digunakan. Saya tahu bukan cuman mahasiswa yang merasakan dosen juga merasakan hal yang sama perihal platform pembelajarannya. Dalan platform tersebut tertulis "SIMPEL", Ndasmu simpel. Masih belum layak dipakai semua mahasiswa dibilang simpel, masih banyak kekurangan, itu butuh perbaikan, dariapada didiemin yang katanya simpel, tapi menyulut emosi para penggunanya, mending di perbaiki secepatnya.
Seperti tidak serius dan "paduanabae" dalam melayani. Bicara masalah pelayanan, ya lumayanlah. WC tiga, yang dibuka cuman satu. Parkiran yang masih tidak teratur difakultas saya.
Jangan terlalu labil, sat set atuhlah. Jangan terlalu banyak membebani mahasiswa dengan kebijakan-kebijakan, sudah cukup dengan mata kuliah yang full seminggu tidak ada libur, kecuali hari-hari besar Nasional.
Sabtu, 05 Maret 2022
Kenapa mesti berperang?
Tak habis-habisnya kita membicarakan tentang peperangan setiap harinya, entah itu di timur tengah atau yang tengah ramai di publish yakni antara Rusia dan Ukraina.
Agresi yang tempo hari yang dilakukan Rusia terhadap wilayah-wilayah Ukraina menjadi berita penting akhir-akhir ini dan mengaitkan bahwa akan terjadi perang dunia ketiga. Padahal itu terjadi beberapa waktu yang lalu seolah-olah warga dunia baru merespect tentang serangan Rusia terhadap warga Ukraina. Mereka kemana saja sebelum-sebelumnya, Timur tengah yang tiap harinya mengalami konflik senjata, seolah mata dunia tertutup dengannya.
Konflik Israel dan Palestina, yang tiap hari warga Palestina selalu mengalami kecaman dan diskriminasi saat beribada di Masjid Al Aqsha, Yerusalem. Media dan mata dunia seakan-akan tidak memperdulikan hal itu. Dan setelah konflik berlangsung di Ukraina, barulah mata dunia merespect kejadian itu(Ukraina).
Terlepas dari konflik Rusia Ukraina. Di Palestina ada warga yang terhalang hak-haknya untuk beribadah, dan tiap harinya selalu dihampiri rasa takut dengan senapan dan gas air mata yang siap dijatuhkan kapan saja.
Apa esensinya perang? Yang ada hanya ratusan bahkan ribuan nyawa melayang, dari seorang yang taat dan tak bersalah pun ikut menjadi korban. Tidakkah berkaca dari kejadian di masa lalu. Perang selalu mengerikan, perang selalu berdampak buruk bagi kehidupan. Perang hanyalah masalah sudut pandang masing-masing kubu, dan tidak akan pernah berakhir selama keduanya bersikeras mempertahankan argumennya dan menentang argumen lawannya.
Senjata penghancur tercanggih mulai tercipta, dan hanya menunggu instruksi saja untuk mengaktifkan pemusnah massal itu. Demi kemenangan, nyawa tak berdosa hilang. Demi kemenangan, makhluk hidup dilenyapkan.
Kapan ini akan berakhir?
Kamis, 24 Februari 2022
Tulis Pemalas
Sesekali aku ingin disibukkan dengan ketenangan, mencoba menyatukan diri dengan alunan suasana yang bersamaku. Sambil mendengarkan musik indie yang alunannya menggoda telinga untuk bersorak kegirangan saat nada puitis mengalun indah.
Tapi aku hanya seorang pemalas yang risih dengan keramaian. Aku tidak bisa menyatakan cinta kepada seseorang bukan karena malu, tapi aku benar-benar malas.
Aku ingin mencoba bermain gitar, seperti idolaku Iwan fals dan Kurt cobain. Aku sebenarnya bisa seperti mereka, dengan memainkan petikan yang indah. Tapi aku sungguh malas
Menyender dikursi seraya menyender dalam singgasana kemalasan yang terperanjat dalam benakku dan mendekap seraya membisik 'nyamankan dirimu'. Bisikan itu lembut, selembut bibirmu saat kucumbu dengan gemulai.
Melawan kemalasan seperti melawan prajurit Romawi yang siap tempur di depan mata. Ya, kita harus berani menghabisinya dengan keyakinan bahwa kita bisa. Rasa itu akan sirna selama kita tidak terpaku pada suatu hal saja.
Ada banyak hal untuk diapa-apain, "carilah kesibukan coba wahai diriku" ujarku selepas santai menyender dikursi ternyamanku. Kita perlu objek untuk menggerakkan diri kita dan objek itu haruslah penting dan punya impact pada diri.
Bergeraklah untuk beraktivitas selayaknya, jangan terkoyak dengan kemalasan yang menanti didepan mata.
Yang jelas saat ini aku benar-benar malas gerak.
Kamis, 17 Februari 2022
Celoteh dari sudut negeri
Suatu hari dalam sebuah negeri yang damai, elok dan asri
Bergelimang keindahan alamnya yang indah berseri
Hingga pada suatu hari, tangan-tangan kotor menapakan serta mengekploitasi
Pembangunan dimana-mana
Tak memperdulikan nasib makhluk hidup yang ada disana
Pemerintah berjanji mensejahterakan rakyat
Tapi malah membuatnya melarat
Agitasi keluar dari mulut penguasa
Kepada rakyat agar mau menjual tanah tercinta
Dengan lantang warga berkata
"Ini bukan milik negara! Ini milik kita, pribumi!"
Langganan:
Postingan (Atom)