Semenjak pergantian Kuwu masyarakat mulai merasakan ketidaknyamanan dengan pemerintahan desa, dimulai dari RT yang tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Untuk kesekian kalinya RT mendatangi rumah saya dan meminta surat-surat yang katanya untuk bantuan dari pemerintah pusat yang telah turun. Untuk kesekian kalinya tidak ada kejelasan keberlanjutan hasilnya. Sang RT hanya bilang "entahlah gak tau". Warga blok RT sini tidak ada yang dapat, tapi RTnya sendiri yang dapat hasil bantuan dari pemerintah. Sudah kelihatan seperti ada manipulatif yang terjadi pada RT sialan ini.
Tetangga saya, Pak Kusnadi sampai-sampai pergi langsung ke aparat desanya, karena dia punya saudara disana, dan setelah dia mendatangi aparat desa dia langsung mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia saking kesalnya sama RT dan pengen mendapatkan bantuan karena ekonomi sedang tidak baik-baik saja, bukan cuman menimpa satu dua orang, anjlokan ekonomi terjadi pada beberapa masyarakat. Harusnya bareng-bareng dibantu, bukan seperti RT sialan tadi yang hanya mendapat hasil sementara warga di bloknya hanya bisa diam dan meratapi hasilnya yang tidak jelas.
Punya saudara di pemerintahan itu enak sekali, hukum nepotisme masih berlaku ternyata. Mendengar kabar bahwa ketika bantuan turun semua aparat desa mendapatkan hasil bantuan, bahkan anak-anaknya dapat. Terlalu tergiur dengan materialistis, bukan anda doang yang pengen bantuan pemerintah pusat, rakyat kecilnya juga di perhatikan dong. Jangan enak duduk asik dan dapat hasil, tanpa melihat rakyatnya yang kelaparan menunggu hasil yang tak pasti. Kalian kerja apa sih?
Aparat desa selama beberapa tahun kebelakang ini seperti tidak ada tindakan, dan tidak ada impact buat masyarakat, impact-nya hanya membuat perutnya kenyang sendiri.
Jangan mentang-mentang masyarakat didesa ini diam-diam saja tanpa perlawanan dengan ketidakmerataan dan ketidakadilan pemerintahan desa yang tidak becus, banyak dana yang masuk dan keluar secara sia-sia. Masyarakat kecil tidak diperhatikan, namun keluarganya sendiri bahkan diikut sertakan dalam menerima bantuan. Heh kalian tai. Tidak cukupkah gaji kalian sebagai aparat desa untuk membiayai kehidupan sehari-hari, apakah masih kurang? Lihatlah para nelayan, buruh serabutan, petani, tukan bangunan, dan masih banyak lagi, yang LEBIH LAYAK menerima bantuan ekonomi daripada sanak-saudara kalian yang berkecukupan.
Beginilah ketika aparat desa yang dipilih asal tunjuk, tidak tahu latar belakang dan attitude orang tersebut. Wong saat pemilihan kuwunya juga tidak jelas visi misinya apa, tapi dengan uang mampu membayar suara masyarakat untuk memilihnya. Masyarakat harus cerdas jangan langsung menanggapi calon Kuwu yang ambisius, tanpa kejelasan visi misinya ngapain. Paling kalau sudah jadi dia cuman duduk doang di kursi empuk dikantor desa.
Begitulah singkatnya dari beberapa aparat desa yang tak terpelajar desa wakanda, tak punya rasa kemasyarakatan hanya punya rasa individualis dan hedonisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar