Masa SMP adalah masa dimana ego dan gengsi itu sangat melekat dalam setiap sirkel pertemanan, dan jika ada masalah yang sepele itu malah akan di besar-besarkan hingga menimbulkan konflik yang merusak hubungan antar relasi yang telah dibangun. Makanya aku tak terlalu memiliki banyak teman saat SMP, kebanyakan berisi toxic, dan hanya beberapa saja yang bisa diandalkan.
Aku kemarin mengobrol dengan tetanggaku, yang mana dia itu masih kelas 2 SMP. Sebelum itu dia punya teman yang sangat dekat dan tiap hari mereka lalui dengan keceriaan, bersenda gurau bersama, dan mereka juga satu organisasi di sekolahnya. Terus hanya karena masalah sepele yang harusnya bisa diselesaikan dengan cepat, malah merembet kemana-mana.
Panggil aja tetanggaku itu Sarah, dia pindahan dari Papua disini dia tinggal bersama kakek neneknya. Perbedaan budaya sering kali membuat dia bingung, dan hari-hari pertamanya disini bertemu dengan teman-teman baru dia selalu di ejek karena logatnya yang orang Papua melekat dalam dirinya. Dia seolah-olah tidak terganggu dengan hal seperti itu, namanya juga culture shock, dan dia berusaha untuk menyatu dengan budaya dan lingkungan sosial sekitar.
Singkat cerita dia berkenalan dengan Indri, dan beberapa hari kemudian mereka akrab dan sering main bersama. Saat ngaji denganku pun mereka selalu bersama dan selalu memancarkan raut wajah yang gembira. Setelah mengaji denganku mereka selalu bercerita tentang hari-harinya dan kesukaannya akan cowok-cowok good looking idaman mereka. Aku hanya menanggapi seadanya saja tak ingin terlalu banyak berbicara, biar mereka saja yang bercerita.
Mereka berdua satu organisasi di PMR, dimana Indri menjabat sebagai wakil ketua, dan Sarah sebagai Bendaharanya. Masalah muncul ketika ada seorang lelaki yang datang dalam pertemanan mereka, dimana lelaki itu mencintai Sarah, tapi Indri mencintai lelaki itu. Tak jauh-jauh lelaki itu adalah ketua umum PMR.
Lelaki itu pernah mengutarakan cintanya ke Sarah dihadapan teman-temannya tiga kali, yang pertama dan kedua terjawab sebuah penolakan, dan yang ketiganya karena Sarah bingung, Sarah tidak tega juga dan kasihan dia menerima lelaki itu. Namun, tidak untuk waktu yang lama.
Hubungan Sarah dan Indri mulai kacau, Indri mengira Sarah telah menikung dia dari belakang, dan mengajak sirkelnya untuk memusuhi Sarah, bahkan Indri sering kali playing victim kepada Sarah. Mereka berantem dan tidak ada yang ingin mengalah, saling memperbesar dengan opini masing-masing, dan banyak dari teman-teman Indri yang memantik dan melebih-lebihkan omongannya untuk menyulut emosi Indri supaya masalah yang terjadi semakin keruh.
Hari-hari mereka berdua yang ceria itu sirna, hanya ada tatapan sinis dan omongan dari belakang diantara mereka. Sarah mencoba untuk menurunkan egonya, dia juga tidak ingin ada masalah dia tidak ingin kehilangan teman-temannya, dan akhirnya dia memutuskan hubungan dengan lelaki itu. Setelah itu Sarah berbicara dengan Indri dan saling memaafkan, namun Indri berujar bahwa "pertemanan kita tidak bisa seperti dulu, kita hanya sebatas kenal saja dan satu organisasi, aku sudah terlanjur kecewa."
Indri bilang kepada Sarah bahwa Sarah tidak profesional, tapi Sarah membantah opini itu, menurutnya yang tidak profesional itu dia, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi malah di perbesar dengan membawa sirkel. Dan juga lelaki itu tidak profesional menjalankan tugasnya yang notabenenya sebagai ketua, karena dalam peraturan organisasi tidak dibolehkan pacaran dengan satu teman organisasi. Meskipun peraturan itu tidak tertulis, tapi sebagai ketua harus dengan profesionalitas bisa menjalankan.
Sarah sudah menyelesaikannya, tapi dia juga tidak terlalu memperlihatkan keresahannya tentang masalah tersebut. Aku juga pernah memberinya saran tentang selalu menghadapi masalah dengan tenang, dan tidak panik. Serta tetap ramah dan berbuat baik kepada orang, dan juga mewanti-wanti kejadian kedepan dengan cara berpikir negatif, agar kita tidak terlalu jatuh jikalau peristiwa buruk yang sudah kita pikirkan akan terjadi. Sarah bilang "kalau maunya seperti itu yaudah, yang penting aku sudah minta maaf jika aku salah, dan jika dia tak mau berteman denganku seperti dulu, tak apa, itu hak dia".
Keceriaan yang dulu sudah tidak bisa kembali lagi karena ego dan agitasi sirkel yang semakin menyulut emosi Indri agar tidak lagi berhubungan baik dengan Sarah seperti dulu. Satu kesalahan akan selalu diingat melupakan seribu kebaikan dan kebahagiaan saat sedang bersama.
Indri dan sirkelnya yang pernah main ke rumah Sarah dan melihat ibunya seperti tidak suka Sarah berteman dengan mereka, namun kembali lagi yang memperburuk itu imajinasi mereka yang belum tentu benar. Jangan langsung menilai orang dari tampilan, selama kita belum kenal dan tahu betul sifat orang tersebut.
Namanya juga masih SMP, egoismenya masih tinggi dan tempat mainnya masih belum jauh. Jadi belum mengenal sama sekali arti pertemanan yg di campuri masalah percintaan. Tapi harus bisa untuk mengatur diri, jangan mau hidupnya di atur dalam bacotan orang lain, jangan langsung percaya dan menilai opini orang lain yang belum tentu akan kebenarannya. Mencari sahabat yang sangat dekat itu susah, jadi jangan rusak persahabatan yang sudah jadi dengan peristiwa sepele yang terjadi. Bukan peristiwanya yang buruk, tapi pandangan pikiran kita tentang peristiwa itu yang memperburuk.
Semoga bisa dibaca oleh banyak orang
BalasHapus