Kamis, 27 Januari 2022

Terselip diantara gerimis


Sore itu mendung sangat pekat, angin datang tatkala menambah kesan bahwa hujan sebentar lagi akan datang, saat itu bel sekolah mulai berbunyi, murid SMA negeri 2 kota itu beramai-ramai keluar dari gerbang. Dari sudut tempat parkir sekolah terdapat pria yang mulai menaiki kendaraannya, sementara yang lain sudah keluar satu persatu dari parkiran. Dia menyapa temannya untuk pulang terlebih dulu, dan dia bergegas pulang dengan laju motor bebek yang sedang. Keluar dari gerbang gerimis datang dan mulai deras dan besar tiap butirnya, pria itu menepi ke ruko-ruko kosong, dan mendapati perempuan sendirian yang memegangi HPnya dengan kesal dan disisi lain orang tua suami istri yang sedang memakai jas hujan.

Dia membuka bagasi motornya untuk mengambil jas hujan, dan ketika di buka, voila! Dia tidak membawanya dengan raut muka yang kesal itu, dia memukul jok motornya dan menepi, dua orang suami istri itu segera pergi meninggalkannya dan dia hanya berdua dengan perempuan di sebelah kanan agak jauh itu. Perempuan itu berseragam sekolah, dengan logo SMA negeri 5. Hujan sangat deras, tidak ada lagi yang berhenti di ruko itu, hening suasana hanya ada suara hujan yang menghantam tanah dan benda-benda yang memunculkan suara khas hujan yang menenangkan.

Mereka berdua masih tetap diam, seperti terbatas oleh sekat yang tak terlihat, sekat itu adalah rasa canggung dalam diri mereka sendiri. Mereka sesekali mencuri-curi pandang satu sama lain, dan untuk ke sekian kalinya mereka tak sengaja bertatapan, dengan canggung mereka hanya senyum dan buang muka lagi. Pria itu mencoba mendekati perempuan tersebut dengan langkah kaki yang pelan dia menghampirinya. Perempuan itu nampak curiga dan berhati-hati serta memperhatikan gestur pria itu.
“Hei kenalin gue Fajar, kok lu sendirian?” ujar Fajar dengan berkarisma.

“Nara” ujar perempuan itu dengan senyum manisnya, setelah menghela rambutnya dia melanjutkan “tadi ada temanku tapi sudah pulang sama pacarnya, dan aku ingin pulang menelepon orang di rumah tapi HPku mati” dengan raut wajah yang cemberut.

“Oh” ujar Fajar sambil memandang hujan di depannya, dia bersender ke tembok di belakangnya, “Nanti aja pulangnya kalo hujan sudah reda” lanjutnya.

“Lu kan sang Fajar harusnya hujan ini bisa lu redahin dengan sinar lu haha” katanya sambil tertawa.

“Oiya temanmu kan sama pacarnya, kamu gak sama pacarmu?” ujar Fajar

“aku gak punya pacar” kata Nara sambil senyum .

“kenapa?” ujar Fajar

Nara menjelaskan karena berbagai alasan dia tidak ingin pacaran dan dekat dengan pria, dan Fajar hanya mengangguk dan berkata “oh begitu”, dari situ mereka mulai melanjutkan obrolan sambil memandangi hujan yang di depan mata mereka seperti anak panah yang berjatuhan menghujam tanah tanpa henti. Nara sebenarnya sudah memperhatikan Fajar sedari dia datang sampai dia turun dan kesal dengan jas hujan yang tidak dia bawa, dalam benak Nara akhirnya ada orang juga yang bernasib sama sepertinya meski berbeda kasusnya. Disisi lain juga dari kejadian itu mereka dihadirkan dalam temu yang menyebalkan karena hadir dalam sebuah permasalahan HP mati dan tidak membawa jas hujan, yang membuat satu sama lain kesal.

Hening mulai terjadi diantara keduanya ketika tidak lagi ada topik pembicaraan. Hanya ada riuh pengendara motor dan mobil yang menerobos rentetan air hujan, dan beberapa orang berjalan dengan payung mereka di trotoar. Beberapa menit kemudian hujan mulai reda, Fajar menawarkan tumpangan pada Nara “ayo pulangnya gue antar”.

“boleh, kalo tidak merepotkan” ujar Nara dengan nada dan raut wajah yang riang sumringah

“Tidak merasa di repotkan sama sekali” ujar Fajar dan segera menuju ke motornya dan mengelap jok motornya, meski masih tersisa gerimis kecil, mereka tetap akan melanjutkan perjalanan pulangnya daripada menunggu ketidakpastian kapan hujan benar-benar berhenti.

Jalanan yang basah, dan langit yang sayu mencoba memunculkan matahari kembali. Mata Fajar fokus dengan jalanan yang di depannya, sementara Nara terperanjat melihat beberapa orang dan isi jalanan sepanjang perjalanan, melewati pasar yang masih ramai orang menyebrang jalan dan beberapa angkutan umum parkir di depannya. 

Dalam jalanan yang banyak pepohonan yang basah itu memberi kesan romantis pada keduanya, Fajar berkata “lu kan gak mau pacaran, bagaimana kalo aku besok aku melamarmu?” ujar Fajar dengan mata fokus ke jalan.

“Heh, baru aja kenal” kata Nara sambil menepuk pundak Fajar

“baru simulasi saja”

“Simulasi endasmu” kata Nara, dan mereka pun tertawa bersama.

Mereka sampai ke sebuah gang, yang jalannya agak lebar dengan di genangi air bekas hujan, disisi lain ada anak kecil yang sudah basah kuyup masih bermain di pinggir jalan, seorang ibu-ibu yang masih memakai payung bersama anak balitanya yang ia gendong. Dan mereka pun sampai di depan rumah tanpa gerbang dengan banyak pohon yang menghijaukan halaman depannya. “wih, berasa tinggal di tengah hutan nih” ujar Fajar dengan mata yang sedang memandangi lingkungan sekitarnya.

Nara turun dan mengucapkan terima kasih kepada Fajar karena telah mengantar dia pulang, dan Fajar pun tersenyum memandang Nara. Mereka memandang cukup lama dan kaku untuk meninggalkan satu sama lain, kemudian Fajar berbicara tentang dia ingin meminta nomor HP, dan Nara menanggapi dengan baik “boleh, jangan di apa-apain ya” ujar Nara dan mengambil HP Fajar untuk mengetik nomornya. 

“Gak bakal tak apa-apain, cuman tak telepon dan kirim pesan, juga sebagai ruang rindu kalo ingin bertemu lagi” ujar Fajar diatas motornya.

Nara hanya tersenyum.

Kemudian Fajar pun mengucapkan bahwa dia akan pulang “sampai jumpa Nara”, dan Nara menjawabnya “hati-hati tukang gombal” dan melemparkan senyum indahnya. Lambaian tangan keduanya mengakhiri pertemuan mereka. Ketika Nara masuk ke rumah, sang Ibu ternyata sudah memperhatikan lewat kaca jendela, putrinya berbicara dengan seorang pria dan mengira itu pacar barunya. Setelah menjawab salam, sang ibu berujar “diantar sama siapa tuh?” dengan nada meledek.

“Teman ma”

“Teman apa pacar?” ujar mama masih dengan tingkahnya yang meledek

“Teman kok mamaku tercinta, baru saja kenal tadi, dia sudah nolongin Nara dari hujan, juga sebagai teman ngobrol dikala sepi, HP Nara mati, gabisa nelpon orang rumah”. Kata Nara dengan tenang dan santai dalam menjelaskan.

Sang ibu hanya berkata “oh yaudah, mandi sana, jangan pacaran ya, awas kamu”

“Siap mama”

Malam perlahan memperlihatkan gelapnya, di terangi untaian bintang di angkasa. Disudut kamar yang agak gelap, hanya membias cahaya lampu kelap-kelip di tembok dan lampu di meja belajar, pulpen dan buku menjadi teman terbaik Nara tiap malam, dia selalu mengerjakan tugas atau membaca buku pada malam hari, waktu ternyaman dan tenang dalam keheningan malam adalah hal yang dinantikan. HP yang ditaruh di ranjangnya berbunyi, tapi tak di gubrisnya, dia amat fokus dengan tugasnya, yang harus selesai hari itu juga, tiada yang lebih rumit dari matematika, selain hubungan yang tak tahu arahnya kemana.

Beberapa menit kemudian Nara selesai dengan tugasnya, dan lagi-lagi terdengar dering suara HP dan dia langsung mengambilnya. Terlihat banyak notifikasi dari seorang yang mengantarnya sore tadi, Nara hanya tersenyum kecil melihat itu. Kemudian Nara merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, dan membalas pesan dari Fajar.

“Ada yang kangen seraya menunggu aku balas pesan ya” ketikan Nara
Sementara di ruangan yang masih terang dengan gitar disampingnya, Fajar membalas pesan dari Nara sambil bersender di tembok dengan kaki diatas kaki yang lainnya. Mereka asik mengirim pesan, membicarakan hal-hal yang absurd dan menanyakan perihal hobi dan kesukaan masing-masing. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, 1 jam lebih mereka saling mengirim pesan, hingga rasa kantuk datang tanpa diundang. Kata-kata selamat malam mengakhiri obrolan mereka, dengan senyum dan harapan masing-masing mereka terlelap ke ruang mimpi akan hinggap.

Tak diduga temu tadi menghadirkan rasa nyaman diantara keduanya, namun terhalang sekat yang tak ingin mereka memiliki hubungan yang lebih formal. Waktu akan cepat berlalu yang berhubungan belum tentu akan bersatu, tapi yang bertahan tanpa hubungan sekalipun pasti bersatu.

Keesokan harinya, gerimis hadir menerjang pagi hari untuk berangkat ke sekolah. Riuh anak sekolah berangkat sekolah termasuk Fajar yang masih belum siap untuk berangkat dia membaca bukunya, hingga waktu menentukan pukul 7 dia mulai berangkat, dia tertahan oleh beberapa lampu merah saat sampai di kota, sementara gerimis masih menemani paginya. Dan kali ini dia tak lupa membawa jas hujannya. Dia sampai kelas tepat sebelum guru masuk, dia duduk di bangku pojok urutan ketiga, menurutnya itu tempat yang strategis.

Fajar anaknya aktif di kelas, apalagi saat diskusi dia sangat menyukai momen seperti itu, karena seru dan ramai ujarnya. Dalam kelas Fajar memiliki teman yang paling asik saat menemani dia mengobrol. Sehabis waktu istirahat, guru Bahasa Indonesia tidak masuk, dan hanya memberikan tugas. Semua anak hanya beberapa yang mengerjakan tugas dan sisanya santai-santai dan ada yang keluar ke kantin untuk menuruti nafsu makan mereka. Fajar sedang bergelut dengan bukunya yang berjudul the stranger karya Albert Camus, penulis asal Prancis. 

Seorang datang duduk di bangku depannya yang kosong dengan kaki yang selonjoran ke depan. “Udah dikasih tugas malah baca yang lain” ujar temannya itu, dan Fajar menjawab dan menanya balik, “santai” terus memandang temannya dan lanjut “kaya lu sendirinya sudah selesai aja, ngerjain gak lu?”  

“Hehe santai” ujarnya

Namanya Andy, dia teman yang paling dekat dikelas dengan Fajar, dia anak organisasi dan sebagai ketua OSIS, anaknya keingintahuannya tinggi yang membuatnya sangat ekstrover. Dia berkeluh-kesah tentang motornya yang akhir-akhir ini turun mesin dan membuatnya kewalahan yang mengutak-atik, kadang dia dan Fajar mengutak-atik motor bareng dirumahnya. “Vespa gue mati lagi sialan” ujarnya dengan geram sambil mainan HP .

Fajar menjawabnya sembari fokus dengan bukunya “sudah biasa juga kan, santai”

“santai-santai mulu anjir” ujarnya sambil sekilas melihat ke arah Fajar 

“namanya juga motor tua” ujar Fajar sambil mengganti halaman selanjutnya 
“Biarpun motor tua, banyak kenangan tersimpan didalamnya” ujarnya dengan songong dan lanjutnya “motor lu juga motor tua, bentar lagi juga bakal turun mesin pasti” katanya sambil tertawa 
“Doain yang gak benar ini anak” ujar Fajar dan dia menaruh bukunya untuk di baca nanti, dan dia mengambil HP seraya untuk menanyakan Nara apakah nanti sore minta di antar lagi pulangnya.

Dan Nara membalasnya sesuai ekspektasi yang Fajar pikirkan. Selesai jam pulang sekolah Fajar langsung menuju sekolah Nara, yang mana Nara sudah menunggu sedari tadi di sebelah halte berwarna biru dengan banyak orang itu. Dia berdiri bersama teman-teman, lalu Fajar datang menghampiri, teman-teman Nara melihat Fajar secara sinis dan detail dari ujung atas dan bawah, Fajar mengetahuinya dan bersikap bodo amat. Ketika motor Fajar di depannya Nara langsung menaiki dan melambaikan tangan seraya ingin pulang lebih dulu.

Cuaca saat ini berbeda dengan kemarin, agak berawan tapi tidak hujan, mereka melewati beberapa sekolahan yang masih ramai orang-orang berkerumun keluar dengan sirkel masing-masing. Mereka sampai di perlintasan kereta, palang sudah mulai tertutup, mereka berada di pinggir jalan dan di pinggirnya ada keluarga yang menaiki motor dan membawa anak kecil perempuan yang imut, Nara menggodanya dan meledeknya hingga wajah anak kecil itu cemberut. Orang tuanya langsung menenangkan anak kecil yang di gendongnya “kakaknya gak jahat kok, lihat itu kereta mau lewat”, Nara pun ketawa.

“marahin aja ini buk, dia usil orangnya” kataku kepada ibu-ibu yang menggendong bayinya itu. Lalu Nara menambahkan “dedenya lucu cantik Bu”, Ibu itu hanya tersenyum manis.

Sementara bayi itu menatap Nara dengan wajah sinis yang imutnya itu. Kereta melaju dengan cepat, semua kendaraan mulai bergegas meninggalkan tempat penantian itu. Mereka tak banyak bicara di motor, hening dan tenang menerpa mereka. Sampailah di rumah yang seperti hutan hijau itu, dengan bunga-bunga berwarna-warni di depannya yang memberi kesan indah. Nara turun sembari mengucapkan terima kasih, dan Fajar menanggapi ucapan Nara. Seperti kemarin susah rasanya untuk langsung bergegas, seperti ada sekat yang menghalangi langka mereka. Dengan senyum masing-masing dan grogi yang meruncing, Fajar mengatakan “Kapan-kapan kita jalan yuk”. 
“Boleh tuh” kata Nara dengan riang, dan melanjutkan “tapi kamu bilang izin ke mama langsung ya”

Fajar pun menanggapinya dengan baik dan berani. Dan tibalah dekat itu menghilang dan memberanikan diri masing-masing untuk meninggalkan, mereka berdua melambaikan tangan dan tanpa sepatah kata pergi ke tempat tujuan.

Keesokan harinya seperti biasa Fajar menantikan waktu pukul 7 untuk berangkat sekolah agar sampai bisa langsung belajar tanpa bermain-main dulu di kantin atau di tempat lain. Andy menyambutnya dengan menepuk bahu ketika Fajar akan duduk di bangkunya, dan dia mengatakan sesuatu seraya berbisik “siapa yang lu anter kemaren? Pacar baru?” katanya.

Fajar memasang wajah aneh dan bertanya dari mana Andy tahu dia kemarin membonceng perempuan, namun Andy hanya menjawab “gue mah orangnya serba tahu, gak bisa mengelak lu hahaha” ujar Andy sambil tertawa “jangan lupa mie ayam sama es teh, yak entar di kantin” lanjutnya.

Fajar mengiyakan supaya Andy diam dan duduk di tempatnya, setelah itu guru masuk dan pelajaran yang dibenci semua murid itu pun akan segera di mulai, logaritma adalah kata yang mulai merusak suasana dikelas kala itu.
Setelah beberapa pelajaran selesai dan waktu menunjukkan untuk istirahat, sesuai janjinya Fajar mentraktir Andy, sebelum memakan mie ayamnya Andy bilang ke Fajar “ikhlas gak nih?”, dan Fajar menjawabnya dengan senyum ramahnya “ikhlas kok sudah gue niatkan sedekah” ujarnya.

Hari ini Fajar tidak pulang bareng Nara lagi karena dia sibuk ada kegiatan di sekolahnya, dan Andy sibuk dengan OSIS-nya, sudah biasa Fajar berteman dengan kesendirian, dia sudah menjinakkannya. Ketika di jalan yang agak sepi yang hanya ada ruko-ruko dan bangunan tua dia di cegat sama orang yang tak di kenal, tapi dia mengenal seragam sekolahnya yakni dari SMA 5 tempat Nara sekolah. Mereka bertiga langsung menyuruh Fajar turun dari motornya, dan yang paling tengah nampak paling beremosi, dan segera memukul ujung mulut dan mendorong Fajar sehingga membuatnya jatuh tertunduk, orang itu bilang padanya “ini akibatnya kalau lu ngedeketin Nara” ujarnya dengan lantang dan dilanjutkan “cewek gue”. Lalu mereka langsung cabut dan Fajar masih memegangi ujung mulutnya dan duduk di trotoar di samping. Fajar tak menggubris kata-kata orang tadi, dia tahu bahwa Nara anaknya jujur dan tidak punya pacar seperti dia.

Fajar mengurungkan niatnya untuk pulang dia pergi ke tempat nongkrong teman-temannya, hanya ada beberapa orang di situ yang lain sudah pada pergi, dan Fajar hanya sebatas kenal sama mereka. Setelah memesan minum Fajar mengobati lukanya yang sedikit memar. Setelah setengah jam berlalu Fajar hanya membaca buku di situ sembari menghisap rokok. Setiap hembusan asap itu tertanda bodo amat untuk hari ini yang dilaluinya. Suara Vespa Andy semakin mendekat, suaranya langsung terdengar saat dia turun dan memesan minuman dan rokok. Dia melihat Fajar dan menyapanya, lalu Fajar bercerita tentang seorang yang menyerangnya, dia memberi tahukan ciri-cirinya dan Andy tahu siapa orang itu. Andy memanggil 4 orang lain yang berkumpul disisi lain warung ini.
Setelah beberapa menit mereka langsung berangkat menuju ke jalan pemuda, tempat nongkrong anak SMA 5. Setelah sampai sana, mereka sangat beruntung bertemu dengan orang yang menyerang Fajar tadi. Di warung itu terdapat 5 orang, dan yang ikut dengan Fajar berjumlah 6 termasuk dirinya. Teman-teman Fajar langsung meladeni 4 orang lainnya untuk di tahan agar tidak ikut campur urusan orang. Dengan langkah yang menyeramkan Fajar menarik kerah baju orang yang memukulnya, sebut saja dia Agung.

Dengan mata yang tajam mereka bertatap-tatapan, hening suasana kala itu dan terlihat raut wajah Agung yang menahan rasa takut menatap tajamnya mata Fajar. Dengan emosi yang memuncak, Fajar tidak jadi menghabisi Agung, dia mendorongnya ke kursi tempat duduknya semula. Dan Fajar menyuruh teman-temannya untuk pergi. Dan tanpa sepatah kata pun mereka pergi, tanpa keributan dan kekerasan. Fajar berpikir, untuk apa balas dendam kepada seorang bedebah yang telah menjahati kita, kalau kita balas dendam padanya itu sama saja membuat diri kita tak ada bedanya dengan bedebah itu.

Hari demi hari di lalui, dan sepertinya Agung sudah tidak mengganggu lagi, tidak apa-apa kalau dia suka sama Nara, tapi tidak dengan tindakan pengecut seperti itu, dia harus berjuang mendapatkan hatinya bukan berjuang menyingkirkan lawannya. Fajar juga sangat berterima kasih pada Andy yang menggerakkan anak-anak yang lain untuk membantu Fajar kemarin-kemarin. 

Tiba saat hari Minggu, hari dimana ada sebuah janji yang akan segera ditepati, oleh raga yang sudah menanti, kehadiran seseorang disisi. Fajar datang ke rumah Nara pukul 9 pagi, pagi itu Nara memberitahu dirumahnya hanya ada ibunya. Sementara Ayah dan adiknya sedang keluar ke alun-alun. Dengan satu ketukan pintu, dan salam terucap dari mulut yang terkesan grogi. Nara menyambutnya dengan pakaian yang sudah rapi dan nampak cantik dengan senyum manisnya yang membias di wajahnya. Fajar duduk di ruang tamu, sementara Nara di panggil ibunya untuk ke belakang, Fajar melihati setiap yang ada di ruangan itu dengan detail. Ibunya datang terlebih dahulu dan menyapa Fajar, dan menanyakan namanya serta asal-usulnya.
“Oh kirain dari planet Mars” ujar ibunya dengan nada bercanda .

Nara datang dengan membawa kue yang baru matang dari dapur, dan aromanya sungguh menggoda dihidung, Nara duduk di kursi samping, sementara ibunya berhadapan denganku. Ibunya coba menawari Fajar untuk memakan kue itu, dan Fajar mengambilnya satu, “makan Bu” ujar Fajar lalu memakannya, dan ditanya sama ibu Nara tentang bagaimana kuenya, Fajar menjawab “Enak banget”. Rasa yang baru pertama kali di lidah Fajar itu membuatnya semringah, dan Nara langsung tersenyum melihatnya, suasana sangat riang kala itu di ruang tamu dengan meja yang diatasnya teko dan piring kue.
Setelah berbincang dan bercanda, ibunya Nara langsung ke intinya “oke bagaimana sekarang?” ujar ibu Nara, dan Nara matanya mulai mengode untuk segera mengatakan izin keluar dengannya.

Dengan tegang Fajar langsung menjawabnya dengan mengatakan bahwa dia ingin mengajak Nara jalan keluar, “saya bakal jagain Nara dengan segenap jiwa dan raga saya” ujarnya dan langsung diakhiri senyuman.

Hening sejenak, sang ibu nampaknya sedang berpikir panjang, dan akhirnya jawaban di ucapkan dengan membolehkan anaknya diajak keluar orang lain, dan dia menaruh rasa percaya pada Fajar. Terlihat gembira memancar dari wajah Nara, dan begitu juga Fajar. Akhirnya mereka bisa keluar berdua, dan perjalanan menuju ke sebuah bukit, yang dibawahnya sebuah hamparan hijau dan desa-desa yang terpapar terlihat dari mata mereka. Nara menyuruh masing-masing untuk menutup mata dan berharap, dalam sebuah harapan itu menyatukan sebuah rasa yang segara ingin bersama.

Mereka tetap tidak menjalin hubungan sebagaimana yang seperti dijanjikan sedari awal. Meski waktu dan tuntutan kesibukan memaksa mereka untuk berpisah, tapi mereka tetap menjaga kepastian dan komunikasi hingga suatu saat bisa bersama kembali dan merangkai kisah lagi.

Hingga mereka kembali bertemu untuk melanjutkan cerita. Semesta yang telah lama menanti hujan, kemudian bertemu dalam riuh dan rintik yang berjatuhan. Temu akan selalu membuka cerita.

Berawal dari temu tak terduga
Dipersatukan beberapa untaian kata
Dengan tindakan yang membuat cerita
Yang mengisahkan kita berdua

2 komentar: