Kamis, 13 Januari 2022

Ucap terhalang sekat

Dia yang sengaja menjauh, atau aku yang tak kunjung pasti saat dia menunggu?

Semua berjalan dengan semestinya, sampai ketika terlalu memaksa kepastian malah hancur seketika.

Aku menemuinya saat kelas 2 SMP, dia sangat berbeda dengan wanita sezaman yang pernah aku temui, kelebihan kami adalah satu frekuensi yang sama-sama suka dengan sastra dan karya tulis. Namanya Mega, melambangkan bahwa dia seperti awan yang tinggi yang tak dapat ku gapai.

Kita suka berbicara menghabiskan waktu di ponsel, chating adalah penolong dikala dia sedang overthinking, dia selalu bercerita denganku tentang masalah yang di lalui, dan aku mencoba untuk menjadi pendengar yang baik. Sesekali aku meledeknya hingga membuatnya menggerutu, dan aku suka nada suaranya. Meski dia lebih tua setahun dariku, dia tak pernah sombong dan membanggakan dirinya lebih tua dariku, dia malah bertingkah seperti anak kecil yang suka merengek.

Aku gak pernah ngobrol langsung tatap muka dengannya. Ketika kita tak sengaja bertemu dalam teras, atau lobi sekolah. Dia hanya melemparkan senyum begitupun aku sebaliknya, dan pulang pun masing-masing aku tak pernah pulang bareng. Hubungan kita seperti ada sekat yang menghalangi langkahku untuk menemuinya dan berbicara langsung. Mungkin karena aku masih lugu dan tidak mau terlarut dalam hubungan cinta-cintaan, karena aku mikir belum saatnya aja aku masih terlalu kecil.

Ketika semua temanku di SMP sibuk dengan urusan geng, tawuran, percintaan dan sebagainya. Aku lebih tertarik dengan kenyamananku yakni membaca novel dan menonton kartun. Kata temanku "kaya bocah". Namun menurut Mega "lu keren, tapi aneh juga sih".

Suatu hari di 2016 pada malam hari di bulan Mei, dia mengatakan padaku kalau dia punya mimpi yang sangat pengen sekali di wujudkan yakni, membuat perpustakaan di desa. Menurutnya untuk menanamkan minat baca pada anak-anak, minat baca Indonesia saat itu dan sampai sekarang pun masih rendah.

"Ayo nanti aku bantu, kita kumpulin buku-bukunya" kataku

"Makasih, tapi masalah tempatnya?" Katanya di telpon dengan suara merengek

"Gampang nanti kita cari tempat atau kita nanti beli tanah setelah kerja lulus SMA"

"Hehe kita aja masih SMP, lu kelas 2 gw kelas 3"

Dia sangat bersungguh-sungguh, dan ingin mimpinya terwujud denganku, setelah dia lulus SMP dia masuk ke salah satu SMK di pinggir kota, saat dia jauh disana aku mencoba mempertahankan komunikasi ku dengannya. Tapi sekat itu muncul kembali dan menghalangiku berkomunikasi dengannya selama beberapa bulan.

Kami mulai lost kontak dan saat aku lulus SMP aku masuk SMA negeri di kota. Kita mulai ada komunikasi lagi dan kita mulai lebih dekat, aku sering antar jemput dia sekolah beberapa kali. Sekolahnya searah dengan sekolahku. Kita mulai ada hubungan tapi tidak ada status pacaran. Dia bercerita bahwa dulu saat SMP dia ada hubungan dengan pria lain makanya pergerakannya untuk dekat denganku terhalang. Dan aku pun tak pernah menanyainya punya seseorang atau belum, "punya atau gak punya pacar juga apa untungnya aku nanya padanya" ujarku dulu.

Saat tahun pertama sekolah aku merasa sangat dekat dengan Mega meski sekarang berbeda sekolah. Kita suka ketemu saat ada festival buku dan meet and great bareng penulis terkenal kesukaannya, aku pernah mengantarnya ketemu Fiersa Besari dan Wira Nagara.

Dia mengodekan dirinya agar dikasih kepastian hubungan olehku, namun terjadi lagi aku terhalang sekat untuk kesekian kali untuk menyakinkan dirinya bahwa aku juga sebenarnya menginginkannya. Sementara di SMA, ada seorang cewek yang berusaha mendekatiku dan voila! Dia menembak ku langsung sehabis pulang sekolah di taman saat itu kami habis ada kegiatan disana. Aku shock saat itu, dan aku cuman bilang padanya "jangan sekarang, aku perlu waktu" "terimakasih" ujarku. Dia hanya senyum dan mengangguk. Namanya adalah Marsha.

Aku bercerita pada Mega, namun dia mendorongku untuk menerima cinta dari Marsha. "Sebagai sahabatmu gue menyarankan hal itu, kan lu jomblo bertahun-tahun, cobain aja sekali-kali gitu loh" ujar Mega.

Setelah itu aku dan Mega mulai jarang lagi berkomunikasi, dan aku belum bisa menerima Marsha untuk menjadi pacarku. Aku hanya fokus dengan kegiatan yang aku jalanin di sekolah. Mega juga seperti itu. 

Sampai pada hari kelulusan Mega, aku tidak tau lagi kabarnya, aku bahkan tidak hadir ke sekolahannya. Aku mencoba men-dm instagramnya dan dia membalasku. Aku cuma berucap "selamat dan sukses ya kedepannya". Di bio Instagram juga terlihat akun cowok yang mungkin itu pacarnya.

Kita bertemu di salah satu kafe saat dia pulang kerja, dia bercerita dan aku mengasihkan buku-bukunya yang aku pinjam dulu. Dia menceritakan hal kemarin saat pacarnya yang kuliah di Malang menemuinya di sini. Dia sangat suka hal itu. Dia dengan tatapan wajah kesal dan penuh amarah menatapku "maaf Mega seharusnya aku berjuang mengasih kepastian padamu agar kita bisa berdua selalu" ujarku dalam hati. Itu pertemuan terakhirku dengannya.

"Makasih ya untuk semuanya, Aris" ujarnya dengan senyum manisnya

Semenjak saat itu kita sudah tidak ada hubungan dan komunikasi lagi, tapi aku akan selalu ingat mimpinya siapa tau aku bisa mewujudkannya, sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar